Universitas PGRI Yogyakarta
Rubrik : Keguruan dan Pendidikan
PEMBELAJARAN IPS TETAP BERMAKNA
2008-03-22 10:54:20 - by : admin
Oleh : Kisworo*)

Dalam diskusi formal di kampus tercinta UPY di Yogyakarta, ada keluhan dari teman saya guru SMP Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), bahwa pemerintah seolah-olah memandang sebelah mata terhadap mata pelajaran yang satu ini. Dia merujuk dari kebijakan Ujian nasional (Unas) yang tidak memasukan mata pelajaran ini ke dalam ujian pemerintah pusat selain matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dalam benak saya berpikir positif saja dengan pemikiran tersebut, semoga bukan karena fanatisme yang sempit terhadap bidang yang diampunya tetapi refleksi bentuk tanggung jawab moral terhadap perjalanan pendidikan kita.

Di sisi lain pandangan sebagian orang yang keliru terhadap ilmu sosial bukan merupakan berita baru. Hal ini dikarenakan secara epistimologinya dianggap tidak mampu memecahkan patologi sosial yang terjadi di masyarakat. Ketika pelajar bahkan masyarakat tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau tidak mendapatkan pelayanan sosial, mereka juga akan menjustifikasi ilmu yang satu ini, termasuk dalam kepincangan bidang politik di Indonesia dan perilaku yang kurang beradab (anti sosial) oleh sebagian masyarakat, maka selalu saja mengumpat eksistensi aktualisasi dari ilmu-ilmu sosial.

Persoalannya bukan tidak dimasukannya IPS dalam Unas, akan tetapi bagaimana ilmu ini menjawab tantangan dan perubahan masyarakat yang dinamis. Menurut Saidiharjo (2004) Pendidikan Ilmu Sosial bertujuan agar peserta didik mampu mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan sosial yang berguna bagi kemajuan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Melalui pembelajaran Ilmu sosial (geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, kewarganegaraan, antropologi), diharapkan peserta didik menjadi lebih matang secara emosional, berpikir rasional, memiliki keterampilan sosial dan intelektual sehingga mampu melahirkan keputusan-keputusan yang tepat berdasarkan situasi dan kondisi yang dialami.

Pembelajaran IPS harus ber-perspektif global. Perpektif global merupakan pandangan dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspektif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang berkaitan dengan isu global. (Idealnya tercermin dalam motto “ thingking globally and act locally”). Kumpulan para pakar ilmu sosial seluruh dunia yang berpusat di Amerika yang tergabung dalam wadah “ National Council for the Sosial Studies “ ( NCSS) pada tahun 1994 memberikan sejumlah rambu-rambu kapan pembelajaran IPS akan menjadi sangat kuat (powerful) apabila; 1) Terasa bermakna, yaitu bila siswa mampu menghubungkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dipelajari di sekolah dan luar sekolah, penyampaian bahan ajar ditujukan pada pemahaman, apresiasi dan aplikasinya dalam kehidupan.2) Pendekatan Integratif, yaitu terintegrasi pengetahuan, ketrampilan, sikap, nilai, kepercayaan dan keperbuatan nyata, 3) Berbasis nilai, khususnya menyangkut isu kontroversial yang memberikan ruang berefleksi dan bereaksi sebagai anggota masyarakat, bersikap kritis terhadap isu dan kebijakan sosial, serta menghargai perbedaan pandangan, 4) Bersifat menantang; siswa ditantang untuk mencapai tujuan pembelajaran baik secara individual maupun sebagai anggota kelompok, guru sebagai model untuk mencapai kualitas sesuai standar yang diinginkan, guru lebih menghargai pendapat siswa dengan alasan yang baik daripada pendapat asal-asalan.dan 5) Bersifat aktif, memberi kesempatan berfikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran, pengajaran harus berbasis aktivitas yang dapat ditemui di lingkungan sosial.

Teori belajar behaviour Pavlov dapat menjadi rujukan ; Misalnya sosok Heni yang berumur 7 tahun untuk pertama kali masuk sekolah, disambut oleh guru IPS-nya dengan pujian. Belum lagi dua minggu berlalu Heni minta diantarkan ke sekolah lebih pagi, sambil berkata pada Ibunya, bahwa ia akan menjadi guru IPS bila sudah besar. Pavlov menyatakan; bila suatu stimulus tak terkondisi, unconditioned stimulus (US) menimbulkan reaksi emosional unconditioned respon (UR), seperti takut, marah, gembira, senang dan bahagia, maka memasang stimulus terkondisi, atau stimulus netral sebelumnya, dengan stimulus tak-terkondisi akan menghasilkan timbulnya suatu respon terkondisi (seperti takut dan gembira).

Guru dan Heni melukiskan terjadinya belajar respondennya Pavlov. Pujian guru dapat ditafsirkan sebagai stimulus tak-terkondisi. Tindakan guru ini menimbulkan perasaan yang menyenangkan pada diri Heni, yang dapat ditafsirkan sebagai respon tak terkondisi. Guru dan sekolah yang sebelumnya itu netral, yaitu stimulus terkondisi, terasosiasi dan segera menimbulkan perasaan yang menyenangkan.

Perasaan malas siswa terhadap pelajaran IPS yang “over load” (tanpa seleksi dan adaptasi) sering diidentikan dengan pelajaran hafalan, mungkin didasarkan pada responden terkondisi, yaitu melihat simbol hafalan menimbulkan emosi negatif diri siswa, dan inilah yang kerap kali menghalangi siswa untuk belajar efektif. Sesungguhnya , lingkungan dapat menjadi berpasangan dengan suatu stimulus yang menimbulkan respon-respon emosional positif. Kata-kata guru IPS yang ramah, metode pengajaran yang bagus, pendekatan yang bersifat aktif dan menantang serta terasa bermakna dapat mencegah mereka dari belajar respons-respons yang tidak diinginkan.

Ketika pembelajaran IPS dikelola secara bermakna, menantang dan berbasis nilai (value), diharapkan pandangan miring siswa dan masyarakat tentang IPS dapat direduksi. Penting sekali memahami pengetahuan sosial sehingga kita tahu realitas sosial dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, itulah esensi kontribusi kita terhadap dunia pendidikan. Maka jangan berkecil hati manakala IPS tidak masuk dalam mata ujian Nasional , masih sangat bermakna !

*) Kisworo

Mahasiswa Pascasarjana P-IPS

DAFTAR PUSTAKA

Bell-Gredler, Margaret E.1986. Learning and instruction; Theory into practice. NewYork;Macmillan Publising Company.


Mukminan, 1998. Belajar Dan Pembelajaran. Pusat Pengembangan Pendidikan Profesi Guru (P4G). Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta..


NCSS 2000, National Standars for Social Studies Teacher Volume 1,2, USA.


Ratna Wilis Dahar,1989. Teori-Teori Belajar, Erlangga. Jakarta.


Saidihardjo, 2004. Pengembangan Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Universitas PGRI Yogyakarta : http://www.upy.ac.id/site
Versi Online : http://www.upy.ac.id/site/?pilih=news&aksi=lihat&id=8